Awal perkenalan saya sama band ini, pas launching albumnya, Colours (2007), di Selasar Sunaryo. Waktu itu saya dan rombongan, ada achie, ulil, alfi, ridho, dan yang lain hadir di situ dan cukup terkesan dengan performance mereka. Dari situ saya ngikutin kemana band ini manggung, cari lagu-lagunya dan berkenalan dengan keluarga besar mereka: personel, management, juga para swinging friends. Diperdekat dengan beberapa kali wawancara sama personelnya untuk keperluan beberapa media. Inget banget, apa-apa hubungi mereka dan dengan sabar mereka jawab pertanyaan saya satu-satu. Hehe.. tag @arinaepiphania :p
Singkat cerita, empat tahun lumayan merasa dekat dengan band ini, tau-tau denger kabar mereka mau vakum. Kaget iya, sedih juga iya. Sempet berpikir kenapa sih band yang saya suka harus vakum, Copeland misalnya (eh mereka bubar deng) dan sekarang Mocca. Udah tau sih, Arina udah engaged sama cowok bule dan pasti akan segera menikah. Waktu itu nggak kepikir bakal vakum atau apa. Ya ikut seneng aja, apalagi Arina sempet cerita gimana mas Cris itu make a proposal. Too sweet and that’s like a fairytale. Hihi..
Saya lupa gimana prosesnya, entah dari twitter atau dari mana, tiba-tiba mereka mau bikin last show aja dan itu di Jakarta. Beberapa hari sebelum last show, Ari, si documenter filmmaker asal IKJ ini nyeletuk komentarin tweet salah satu media, yang intinya ngasih tau kalau dia punya niat buat bikin film documenter soal Mocca. Dan ya! Saya over excited. Langsung siapin strategi, cari cara biar ini film bener-bener terealisasi. Setidaknya, kalo saya kangen lagu-lagu mereka, ada kepingan dvd yang saya puter dan nyanyi-nyanyi sendiri. Yang saya tau juga, banyak temen-temen saya yang nggak berkesempatan dateng ke dua show terakhir Mocca saat itu.
Last show berjalan, sok-sok ikutan ambil gambar pake kamera sendiri. Setelah lima bulan menunggu dan sengaja nggak liat preview-annya (emang nggak berkesempatan sih, hehe..), jadi juga sebuah film, judulnya Mocca Rockumentary: Life Keeps on Turning. Film dokumenter konser terakhir mereka lengkap dengan penuturan personelnya. Sengaja nggak pake direct interview jadi obrolannya ngalir, natural dan jujur.. sebagaimana mereka aja.
Apalagi pas mereka bikin konser silaturahmi di Itenas. Menurut saya, itu show yang sangat emosional. Buat yang belum nonton filmnya nanti bisa liat, di situ hujan, yang nonton merapat ke stage (mana stage-nya kecil pula, jadi penuh). Toma juga spontan aja gitu nyanyi lagu berjudul “Kita” yang katanya dia buat beberapa saat sebelum naik panggung. Arina nyanyi dengan suara yang selalu fit seperti biasanya, dan entah kenapa di situ Arina terlihat lebih charming dari biasanya. Indra dan Riko juga keliatan lepas banget main musiknya. Dalam hati saya bilang, ini nih Mocca yang saya kenal! Show kecil, intimate dan spontan. Makanya pertimbangan filmmaker banyak masukin konser ini di film karena emang ini real-nya Mocca. In my opinion lho ya.
Beberapa hari sebelum premiere saya chit-chat sama Arina. Ibu rumah tangga yang tinggal di Long Beach sana bilang, “Semoga yang nonton bisa ngerti bahwa untuk mencapai ke titik ini sangatlah tidak mudah. Hampir 12 tahun bersama, kemudian harus berpisah bukan keputusan yang bisa diambil dalam sekejap.” Dan ternyata, Indra yang kemaren ikut ke Jogja buat nonton film ini, ngaku kalau filmnya bikin dia tambah kangen sama band-nya.
Ah.. saya sangat suka melihat mereka dalam satu panggung, sing and play with all heart out. Makanya pas kemaren nonton filmnya, saya nggak bisa berhenti nyanyi. Hehe.. Dan terharunya, yang ada di venue screening juga ikutan nyanyi. Apalagi di pemutaran kedua. Udah kayak konser lagi itu mah.
Kalau kata Nicho, sutradara film ini selain Ari, film ini dibuat buat siapa aja yang mau nonton, suka atau nggak suka Mocca. Jadi, buat yang nggak tau, minimal jadi tau. Buat yang udah tau, jadi tambah tau. Buat yang lagi kangen bisa jadi tambah kangen dan atau terobati rasa kangennya.
Sepertinya saya setuju sama cewek yang pas screening kedua bilang, film ini mengobati kerinduannya sama Mocca. Yeah, semoga cepat bisa mengobati kerinduan teman-teman pecinta Mocca yang lain, di mana pun Anda berada. So, for the filmmakers, thanks for capturing this all.
19 Desember 2011, Lingga Murni Andarini.
-
boboshy liked this
-
duckkty liked this
-
soundsofopipolla liked this
-
swingingfriends reblogged this from linggaling
-
yasaya liked this
-
allohayona liked this
-
moccarockumentary liked this
-
linggaling posted this